Perjuangan di Depan Kotak Hitam Putih
Bel sekolah berbunyi dengan jelas sebanyak tiga kali, itu adalah tanda pembelajaran awal akan segera dimulai. Gemuruh langkah kaki berlarian terdengar sangat ramai seperti orang yang sedang menyelamatkan diri menuju lapangan sepak bola. Pantas saja, karena ada salah satu dari tim kesiswaan yang sedang menghitung mundur kepada semua siswa untuk berkumpul di lapangan.
Saat itu, Azzam terlihat panik mondar-mandir di area rak sepatu. Dengan wajah yang bingung dan “aaghh” teriakan frustasi, Azzam terus menerus mencari sepatunya. Mendengar teriakan Azzam, Ahmad yang hendak berlari mengurungkan niat kemudian berbalik ke Azzam. “Kamu terlihat kebingungan. Ada apa, Zam?” Tanya Ahmad. “Kamu ngapain tanya!? Sudah jelas aku di sini kebingungan, ya pasti sedang mencari sepatu, apa kau pikir aku sedang mencari jati diri?” tukas Azzam dengan kesal. “Hehehe, santai santai santai..” ucap Ahmad menirukan nada ishowspeed. Azzam pun menyuruh Ahmad “cepat, Mad, bantu aku mencari!” Ahmad dengan tenang geleng-geleng kepala, “Azzam-Azzam apa sih yang membuatmu lupa? Itu lho sepatu ada di tangan kirimu.. hadeehh”, Azzam tepuk jidat “Astaghfirullah… oiya.. maklum, Mad, terlalu banyak hal yang di pikirkan jadi sering lupa. Biasalah, orang penting dan sibuk gini, nih”. Ahmad bertanya balik “buset, kaya orang tua aja kau, Zam.. emang apa yang kamu pikirkan?”. Azzam menjawab sambil memegang janggut “hmm.. apa ya… nah itu juga bagian dari kelupaanku, Mad, hahaha, lariii…” Azzam pun berlari meninggalkan Ahmad. “Oalah, Zam, Zam. Awas kau, ya”.
Semua siswa berbaris rapi membentuk barisan lima shaf, tidak ada satupun yang berbisik apalagi berbicara dengan temannya. Semua tenang dan suasana sunyi menunggu arahan dari kesiswaan, bahkan suara bendera berkibarpun terdengar jelas ketika tertiup angin. Ketika kesiwaan mulai bertanya “Selamat Pagi!” semua siswa menjawab dengan lantang “pagi, pagi, pagi, Allahuakbar!”.
Saat itu kesiswaan mengumumkan pelaksanaan lomba class meeting hari pertama yang terdiri dari lomba tarik tambang, catur, dan voli. Azzam sangat antusias dan semangat menggebu karena tidak sabar ingin segera bertanding lomba catur.
Setelah barisan dibubarkan, semua siswa bergegas menuju papan informasi untuk melihat bagan pertandingan. Azzam juga menuju ke tempat itu namun karena sangat banyaknya siswa membuat azam tidak dapat melihat bagan dengan jelas. Tapi Azzam tak kehabisan akal, Azzam mengambil selembar kertas dari buku yang ada di tasnya. “Awas, minggir.. minggir.., itu bagan salah, ini yang benar mau tak tempelkan” teriak Azzam sambil berjalan mendekati papan informasi. Semua siswa minggir mengira azam mau menempelkan bagan yang benar. Namun setelah ditunggu ada yang nyeletuk “Mana bagan yang benar, Zam? Yang kamu bawa kertas kosong itu”, setelah membaca bagan catur, Azzam menjawab “Wah, salah, ternyata bagan itu sudah benar hehe, maaf, ya”. Semua siswa bersorak “huuuu” sambil mendorong-dorong Azzam keluar dari tempat papan informasi.
Azzam bergegas menuju ruang lomba. Setelah masuk ruang lomba, wajahnya berseri-seri dan sangat bahagia, betapa senangnya Azzam karena dia tau di ruang itu menurutnya tidak ada sama sekali yang jago main catur. Azzam menilai seperti itu karena beberapa kali di jam sekolah biasa mereka selalu menolak ketika diajak oleh azam untuk bertanding catur. Azzam merasa yakin dia akan menjadi pemenang terbaik pada perlombaan catur kali ini. Azzam masuk kelas dengan gaya berjalan yang sombong sambil tersenyum tipis “Assalamualaikum” ucap Azzam masuk kelas “waalaikum salam, silakan duduk zam” Pak Syarif menengok dan mempersilakannya. Kemudian, Pak Syarif menjelaskan mekanisme lomba. Saat Pak Syarif sedang menjelaskan, tiba-tiba, Azzam mengerutkan dahi dan bertanya “Pak Syarif, mohon izin, ini lomba apa ya?” Pak Syarif menjawab dengan heran “Lho ini lomba voli zam, di sini perwakilan tim harus mengikuti penjelasan” Azzam mengatakan “maaf, Pak, tak kira ini lomba catur, hehe” sambil nyengir dan garuk-garuk rambut. Semua bergemuruh tertawa dan Azzam lari keluar ruangan.
Azzam berjalan menuju ruang paling pojok, saat semakin dekat dengan ruangan dia mendengar suara “Panggilan terakhir pemain catur putra atas nama Azzam”, sontak dia panik dan langsung berlari masuk “assalamualaikum, maaf Bu saya terlambat karena tadi salah masuk ruangan”, Bu Retno yang mendampingi di ruang lomba catur menjawab “waalaikumsalam, cepat-cepat waktunya sudah molor menunggu kamu”, kemudian Bu Retno menjelaskan secara singkat teknis lomba catur kepada Azzam yang tidak mengikuti sesi penjelasan diawal.
Tibalah waktunya Azzam bermain pada sesi pertama. Azzam menjalankan bidak warna putih. Ruang yang cenderung sepi menjadi hal yang wajar pada pertandingan catur. Tubuh Azzam belum tenang, detak jantung masih berdenyut kencang akibat terlalu panik mencari ruang kelas lomba catur. Dia tidak bisa bermain santai, sedangkan waktu timer masing-masing pemain berjan bergantian dengan durasi 10 menit. Jika dia terlalu santai atau sekedar istirahat menenangkan diri maka sebakin banyak waktu yang dia buang. Lima menit awal dia tampak tidak fokus, terlihat banyak langkah blunder yang dilakukannya, mungkin dia dapat menang lebih awal, namun karena blunder tadi malah terlihat lawanlah yang berpotensi memenangkan pertandingan. Lawan Azzam kali ini adalah Djati, teman sekelasnya juga. Djati terlihat begitu tenang dan fokus dalam menjalankan bidak-bidak warna hitam dengan strategi yang sulit di tebak. Dan kemudian “Skak Mat!” babak pertama dimenangkan oleh Djati.
Azzam sangat kaget dengan kekalahannya, dia merasa sangat banyak sekali kesalahan langkah yang dibuat olehya, dia menyadari karena dirinya sedang dalam keadaan panik. Sebelum babak kedua dimulai, Azzam minta izin pada bu Retno untuk ke toilet sebentar. Di toilet Azzam tidak buang air, namun dia mencuci wajah dan menatap cermin untuk menenangkan diri “Azzam, tenanglah.. fokus.. kamu pasti bisa, kamu baik-baik saja, dan kamu akan jadi juara” katanya pada bayangan dia yang ada di cermin kamar mandi. Selepas keluar dari kamar mandi, ada perbedaan yang sangat jelas pada gerak-gerik Azzam. Sebelumnya terlihat buru-buru dan panik, kini dia terlihat sangat tenang dan percaya diri. Langkahnya tegap sampai masuk kembali ke ruang lomba untuk melanjutkan permainan babak ke dua. Pada babak ini adalah kesempatan sekaligus ancaman bagi Azzam. Jika dia berhasil menang, maka ada kesempatan lagi untuk bermain di babak ke tiga. Namun jika di babak ini dia kalah kembali, maka pupus sudah harapannya untuk menjadi juara.
Bidak warna putih milik Djati sudah mulai jalan, timer Azam mulai berjalan mundur tanda babak ke dua sudah dimulai. Pergerakan kedua pemain sangat menegangkan. Sama-sama saling mengancam satu sama lain, jika ada sedikit blunder maka dipastikan strategi salah satunya akan berubah drastis.
Tujuh menit berlalu, Azzam unggul 1 poin dalam permainan yang sangat sengit ini. Masing-masing pemain memiliki waktu 3 menit, pertandingan mulai lebih cepat. Kemudian Azzam blunder dan mengorbankan kudanya untuk melindungi skak mat, “agh astagfirullah..” teriak Azzam. Bu Retno memberikan pelanggaran satu kali pada Azzam karena teriak saat permainan berlangsung. Azzam Kembali focus, dengan keringat terlihat mengembun di rambut kepala yang panjangnya 1 cm. Namun takdir berkata lain, Djati yang seharusnya dapat memenangkan pertandingan malah melakukan kesalahan besar dan mengorbankan ratu untuk melindungi dari skakmat. Hingga waktu kurang 1 menit Djati menyatakan menyerah kepada Azzam karena ia sudah meyakini pasti akan kalah. Azzam pun tersenyum lega dapat memenangkan babak ke dua.
Tibalah sampai babak terakhir, penentu bagi kedua pemain. Inilah yang dapat menjadikan pemain lolos ke tingkat berikutnya atau selesai perjalanan menuju kemenangan. Disini pertandingan lebih menegangkan, ditambah semakin banyak penonton yang memusatkan perhatiannya pada permainan Azzam dan Djati.
Babak ketiga dimulai, Kembali Azzam memulai pertandingan dengan bidak warna putih. Langkah demi Langkah dimainkan dengan hati-hati, penuh perhitungan, namun lebih cepat. Kedua pemain sama-sama merasakan kehawatiran yang sama yaitu akankah mampu menghadapi kekalahan atau kemenangan. 9 menit berlalu dan “Skak mat! Haha!” ucap Djati pada Azzam. “Agh! Kenapa ini terjadi!?” ungkapan Azzam sambil merasa kesal. Azzam pun kalah. Namun, ada salah satu penonton yang mengatakan ada kecurangan “Tunggu! Ada yang janggal” ucap Jafis sebagai penonton. Djati menjawab “Apa yang janggal? Sudah jelas aku menang 1”. “Jafis berucap “Sebenarnya tadi belum skak mat, namun kamu terbukti curang, Djati”. Djati tidak terima dikatakan curang “apa-apaan kamu mengatakan seperti itu? Mana buktinya, tanyakan kepada Bu Retno!”. Bu Retno menyela “Hei kalian, ada apa? Jangan membuat gaduh di sini! Kalau sudah silakan pergi saja!”. Jafis menjelaskan kepada Bu Retno tentang kekalahan Azzam karena Djati bermain curang. Jafis memperagakan gerakan tiga langkah sebelum skakmat dilakukan. Dan terbukti bahwa Djati bermain curang. Setelah dibuktikan, barulah Djati mengakui ada kesalahan. Namun itu murni bukan kesengajaan untuk curang, itu adalah kesalahan langkah yang dilakukan Djati karena kurang fokus.
“Yey! Artinya saya menang, Bu?” tanya Azzam kepada Bu Retno dengan penuh harap. Bu Retno berseru, “Pertandingan ini dimenangkan oleh…. Azzam..! Selamat!”. Azzam pun sangat bersemangat dan senang mendengar itu, artinya Azzam berhasil lolos ke tingkat berikutnya.
Di perempat final Azzam bertemu dengan kelas 9 namun Kembali Azzam memenangkan dengan hanya 2 babak. Di semi final Azzam bertemu dengan kelas 8, dan lagi-lagi Azzam memenangkannya dengan 2 babak. Tibalah saatnya dia ke babak final. Ternyata yang dihadapinya di final tidak lain adalah Ahmad teman sekelasnya.
“Waduh, ternyata lawanku adalah orang yang super sibuk. Saking sibuknya sampai lupa kesibukannya itu apa. Hahaha” canda Ahmad kepada Azzam. “Hehe ingat aja kau, Mad. Kali ini kau akan dikalahkan oleh orang pelupa itu, dan yang lebih hebat lagi dia akan menjadi pemanangnya hahaha” jawab Azzam dengan nada menyindir.
Babak pertama pada pertandingan final dimulai. Kelas mendadak sangat ramai untuk menonton pertandingan final antara Azzam dengan bidak warna hitam dan Ahmad dengan bidak warna putih. Suasana semakin panas dan terasa agak pengap karena banyaknya orang semakin bertambah masuk ke ruang lomba catur. Kedua pemain terlihat sangat tenang dan fokus dengan masing-masing menggunakan strategi terbaiknya. Sebagian besar penonton kerap menggelengkan kepalanya karena terheran-heran dengan permainan yang sangat menakjubkan dan sulit ditebak di atas kotak hitam putih. Babak pertama dimenangkan oleh Ahmad, namun babak kedua dimenangkan oleh Azzam.
Istirahat lima menit sebelum pertandingan babak ke tiga. Lucunya disini baik Azzam maupun Ahmad dipijit-pijit pudaknya oleh temannya sambil berpura-pura memberikan intruksi layaknya pertandingan tinju bebas diatas ring saat time out.
Mereka berdua Kembali menuju meja pertandingan, lapangan kotak hitam putih. Keduanya duduk di kursinya masing-masing. Ahmad memuji permainan Azzam dan berharap pujian serupa dilontarkan Kembali untuknya “Hebat sekali kamu, Zam, bisa sampai tahap ini dan berhasil mengalahkanku tadi” ucap ahmad. Namun Azzam dengan sombongnya menjawab “kau baru tahu mad kalau aku hebat? Siapa sih yang tidak tau kehebatan seorag Azam hahaha” ungkap Azzam dengan nada mengejek.
Babak ketiga dimulai, suasana semakin pengap seperti tidak ada celah untuk bernafas. Semua pemain mengeluarkan keringat cukup banyak hingga baju belakangnya terlihat basah. Namun teman-temannya beberapa ada yang sengaja mengipasi Azzam dan Ahmad bagaikan pertarungan para raja.
Waktu kurang dua menit, Azzam merasa bahwa Ahmad sudah terlihat frustasi untuk melawan dirinya. Kemudian “Skak Mat! Hahaha” kata Azzam dengan intonasi kencang. Ahmad menjawab “Apaan sih, Zam, santai aja kali, ini lho lihat…” Ahmad menunjukkan ada perwira di pojok yang siap memakan ratu milik Azzam yang digunakan skak mat tadi. Ahmat tersenyum dan berkata “Gimana, Zam, masa semudah ini mengalahkanmu? Hahaha”. Ternyata Azzam kurang teliti dan melakukan kesalahan yang besar sehingga dia menyerah karena kehilangan ratu.
Semua penonton bersorak “Selamat Ahmad! Hidup Ahmad! Juara 1!”, Azzam pun langsung keluar dari ruangan dengan muka yang masam penuh dengan kekecewaan. Ia menyendiri duduk di bawah pohon alpukat. “hari ini sungguh melelahkan, seharusnya saya tadi tidak ceroboh, agghh!” ucap Azzam sambil memukul dengan keras pada pohon alpukat di sampingnya. Tiba-tiba “Duggg!” Azzam ketiban buah alpukat. “Apa sih kau pohon, bukannya dukung aku malah kau timpa aku dengan buah busukmu!”. Ahmad datang mendekati Azzam dan mengulurkan tanganya untuk bersalaman “Azzam, apa kamu baik-baik saja?”. Azzam menjawab “aku hanya sedang merenung dan sedikit kecewa tadi kalah darimu”. Ahmad memberikan nasihat bijak pada Azzam “Azzam, tenang, setelah ada kesulitan pasti akan ada kemudahan. Tetap semangat berlatih. Tidak apa-apa saat ini kamu kalah denganku, siapa tau ke depan kamu juga akan kalah lagi denganku, hahahaha! Lari…”. Azzam teriak “Ahmaadd… awas kau, ya, lihat saja aku akan berusaha lebih keras lagi”. Azzam pun kembali menuju kelasnya untuk persiapan pulang sekolah.
Kontributor: Ibnu Khoirul (Guru PJOK SMP IT Mutiara Hati Semarang)
Editor: Tim Humas SMP IT Mutiara Hati Semarang