Berita Sekolah 11 Oct 2026 Intan Bintang Wijaya, S.Pd.

SMPIT Mutiara Hati Gelar SOT dengan Tema “Bicara dengan Hati, Mendidik dengan Cinta, Menumbuhkan Anak yang Berakhlak Mulia”

SMPIT Mutiara Hati Gelar SOT dengan Tema “Bicara dengan Hati, Mendidik dengan Cinta, Menumbuhkan Anak yang Berakhlak Mulia”

Semarang – SMPIT Mutiara Hati sukses menggelar kegiatan Sekolah Orang Tua (SOT) dengan tema “Bicara dengan Hati, Mendidik dengan Cinta, Menumbuhkan Anak yang Berakhlak Mulia” pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Bertempat di Aula Utama SMPIT Mutiara Hati, kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB ini dihadiri sekitar 80% orang tua atau wali murid kelas VII, VIII, dan IX dengan penuh khidmat dan antusias.

Rangkaian acara dimulai dengan pembukaan oleh MC oleh Ustazah Bintang, dilanjutkan dengan tilawah dan sari tilawah yang dibawakan dengan indah oleh Ananda Islam dan Sulthan kelas IX selaku perwakilan Rumah Tahfidz SMPIT Mutiara Hati. Penampilan tersebut menambah kekhusyukan suasana. Setelah itu, seluruh peserta bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Mutiara Hati sebagai wujud cinta tanah air dan cinta almamater.

Memasuki acara sambutan, Kepala Sekolah SMPIT Mutiara Hati menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ayah dan Bunda serta menekankan pentingnya SOT sebagai wadah penyelarasan pola asuh. Sambutan dilanjutkan oleh Pak Kuatman selaku Sekretaris Yayasan yang mewakili Ketua Yayasan karena berhalangan hadir. Dalam sambutannya, beliau menegaskan filosofi pendidikan di Mutiara Hati.

“Di Mutiara Hati, kami meyakini bahwa semua orang adalah guru. Guru bukan hanya yang berdiri di depan kelas, tetapi juga orang tua di rumah, lingkungan, bahkan anak-anak itu sendiri yang saling mengajarkan kebaikan. Karena itu, sinergi antara orang tua dan sekolah tidak bisa ditawar. Jika di sekolah anak diajarkan adab dan disiplin, maka di rumah harus dikuatkan dengan bahasa cinta yang sama,” ujar Pak Kuatman.

Acara inti dipandu oleh Ustazah Saras selaku moderator dan diisi oleh Dr. Putri Marlenny P., S.Psi., M.Psi., Psikolog, Koordinator ULDPKPD RDRM Dinas Pendidikan Kota Semarang. Dalam paparannya, beliau menjelaskan kerentanan psikologis remaja.

“Bagian otak depan yang berfungsi sebagai rem emosi, pengambil keputusan, dan pengendali diri baru akan matang sempurna di usia 25 tahun. Akibatnya, anak SMP sering bertindak impulsif tanpa memikirkan dampak jangka panjangnya,” jelasnya.

Psikolog yang akrab disapa Bu Putri ini kemudian mengenalkan lima bahasa cinta orang tua kepada remaja, yaitu afirmasi positif, waktu berkualitas, memberi hadiah, tindakan positif, dan sentuhan fisik. Ia juga menekankan perbedaan pendekatan dalam berkomunikasi dengan remaja laki-laki dan perempuan.

“Remaja laki-laki canggung dengan interogasi tatap muka langsung. Gunakan aktivitas bersama seperti berkendara atau olahraga sebagai pintu masuk komunikasi. Kuncinya adalah validasi kompetensi, contohnya, ‘Ayah bangga kamu bertanggung jawab membereskan kamarmu secara mandiri,’” paparnya.

“Sedangkan remaja perempuan membutuhkan kehadiran emosional yang penuh. Hindari langsung menceramahi sebelum emosinya tervalidasi. Coba katakan, ‘Oh, jadi hal itu membuatmu merasa dikhianati oleh temanmu, ya?’” tambahnya.

Terkait komunikasi afektif, beliau menekankan pentingnya mendengar aktif dan empati.

“Mendengar aktif adalah memusatkan perhatian untuk mendengarkan tanpa memberi penilaian dan memahami perasaan dari sudut pandang orang lain. Hal ini didukung dengan kontak mata yang hangat, tubuh yang condong mendekat, serta tidak melakukan aktivitas lain saat mendengarkan,” ujarnya.

“Empati bukan berarti selalu setuju dengan pikiran anak, tetapi memberikan lebih banyak kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan pikirannya. Empati dari orang tua membantu anak melepaskan emosi negatif sehingga merasa lega,” lanjutnya.

Pada materi inti tentang disiplin, Bu Putri menegaskan pentingnya menerapkan disiplin positif dalam pengasuhan.

“Disiplin positif bukanlah tentang parenting permisif ataupun parenting otoriter yang merusak self-esteem. Disiplin positif adalah penegakan batasan dengan penuh ketegasan dan kasih sayang atau firmness with kindness. Hukuman memicu hormon kortisol dan membuat anak fokus pada dendam. Konsekuensi logis mendidik anak untuk fokus pada perbaikan perilaku. Pastikan konsekuensi memenuhi syarat 3R+H, yaitu Related, Respectful, Reasonable, dan Helpful.”

 

Beliau juga membagikan implementasi harian melalui prinsip 4B.

“Belai minimal empat kali sehari untuk hormon oksitosin, berkomunikasi dua arah dengan menjaga kontak mata, beraktivitas fisik untuk merangsang hormon endorfin agar bahagia, dan melakukan Brain Gym seperti puzzle atau prakarya untuk mengasah otak,” tutupnya.

 

Kegiatan SOT ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ustaz Ibnu. Setelah penutupan resmi, acara dilanjutkan dengan pengambilan Laporan Hasil Belajar (LHB) oleh orang tua bersama wali kelas masing-masing di tempat yang telah ditentukan.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan sinergi antara yayasan, sekolah, dan orang tua semakin kuat dalam mendampingi ananda menjadi generasi yang saleh, tangguh secara emosional, dan berprestasi.

 

Kontributor: Ernawati, S.Pd., Gr. (Guru Matematika)

Editor: Intan Bintang Wijaya (Tim Humas)