Dari Majelis Pagi hingga Tasmi’: Menapaki Perjalanan Menjadi Generasi Qur’ani
Dalam penyelenggaraan pendidikan di Sekolah Islam Terpadu, pembelajaran Al-Qur’an menjadi salah satu pijakan penting dalam membangun karakter dan ketakwaan peserta didik. Pendidikan tidak hanya diarahkan pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada proses menanamkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Semangat tersebut sejalan dengan visi pendidikan SMPIT Mutiara Hati Semarang yang memandang pendidikan bukan sekadar upaya menumbuhkan kecerdasan akademik, melainkan juga proses membentuk pribadi yang berkarakter dan berakhlak. Nilai-nilai Islam diupayakan hadir tidak hanya melalui pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten dalam keseharian murid.
Salah satu bentuk pembiasaan tersebut diwujudkan melalui Majelis Pagi dan Halaqah Qur’an. Melalui kegiatan ini, murid diajak mengawali aktivitas dengan nilai-nilai keislaman sekaligus membangun kedekatan dengan Al-Qur’an. Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya dipelajari sebagai pengetahuan, tetapi juga dihadirkan sebagai bagian dari proses pembentukan karakter dan kehidupan peserta didik.
Majelis Pagi, Pembiasaan Awal Demi Tercapainya Kebiasaan Baik dan Akhlak Mulia
Di majelis pagi, sebelum memulai kegiatan pembelajaran, para murid berkumpul di kelas masing-masing untuk melaksanakan salat Dhuha. Kegiatan dilanjutkan dengan membaca bersama Asmaul Husna, ikrar syahadat, Surah Al-Fatihah, doa sebelum belajar, doa memohon kelapangan, doa untuk kedua orang tua, serta doa memohon kebaikan dunia dan akhirat. Khusus pada hari Senin dan Jumat, para murid juga membaca nadhom adab santri sebagai bagian dari pembiasaan untuk terus memperbaiki adab dan akhlak dalam keseharian.
Kegiatan majelis pagi turut didampingi oleh para wali kelas. Kehadiran wali kelas bukan hanya untuk mendampingi rangkaian kegiatan, tetapi juga menjadi ruang untuk memberikan nasihat, motivasi, serta evaluasi terkait perkembangan dan dinamika kelas. Dengan demikian, kedekatan antara murid dan wali kelas tidak hanya terbangun dalam kegiatan pembelajaran atau agenda tertentu, tetapi juga tumbuh melalui kebersamaan yang rutin dalam majelis pagi.
Melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten ini, majelis pagi menjadi salah satu ikhtiar untuk membangun suasana kelas yang lebih dekat, tertib, dan bernilai Qur’ani—sekaligus menguatkan hubungan antara murid dan wali kelas dalam proses mendampingi tumbuh kembang mereka.
Membaca Al-Qur’an dengan Benar melalui Tahsin
Dalam pelaksanaannya, kegiatan Halaqah Qur’an terbagi dalam beberapa sesi. Salah satunya adalah Majelis Qur’an Pagi yang dilaksanakan sejak pukul 07.30 hingga 09.00. Para murid duduk dalam kelompok halaqah bersama ustaz dan ustazah pembimbing sesuai dengan pembagian kelompok yang telah ditentukan.
Pada sesi pertama, pukul 07.30–08.15, murid mengikuti kegiatan tahsin. Pada kegiatan ini, murid membaca jilid yang telah disediakan dengan memperhatikan kaidah tajwid dan ketepatan pelafalan.
Dalam pembelajaran tahsin tersebut, SMPIT Mutiara Hati Semarang menggunakan metode Qiroati. Metode Qiroati merupakan metode pembelajaran Al-Qur’an yang menekankan praktik membaca secara langsung dengan tartil, cepat, tepat, dan benar tanpa mengeja, sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Metode ini dicetuskan oleh KH. Dachlan Salim Zarkasyi dari Semarang pada tahun 1963.
Melalui metode tersebut, murid dibimbing untuk memperbaiki kualitas bacaan Al-Qur’an secara bertahap. Pembelajaran yang dilakukan secara langsung dan rutin diharapkan dapat membantu murid membaca Al-Qur’an dengan lebih baik sekaligus membangun kebiasaan membaca yang benar.
Menjaga Hafalan melalui Tahfidz
Setelah sesi tahsin, kegiatan dilanjutkan dengan tahfidz hingga pukul 09.00. murid yang telah mempersiapkan hafalannya di rumah melakukan murajaah singkat sebelum menyetorkan hafalan kepada asatiz pembimbing masing-masing.
Program tahfidz dimulai dari Juz 30, dengan target minimal ziyadah atau penambahan hafalan sebanyak tiga baris dalam satu hari. Setelah menyelesaikan hafalan satu surat, murid mengikuti ujian surat dengan menyetorkan hafalan secara penuh kepada guru pembimbing.
Adapun setelah menyelesaikan satu juz, murid mengikuti sertifikasi juz yang disetorkan kepada Guru Qur’an. Tahapan tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah untuk menjaga kualitas sekaligus memberikan apresiasi terhadap proses yang telah dilalui murid dalam menghafal Al-Qur’an.
Menghidupkan Al-Qur’an di Tengah Aktivitas Sekolah
Majelis Qur’an tidak berhenti pada kegiatan pagi. Menjelang Salat Zuhur, murid bersama para asatiz kembali berinteraksi dengan Al-Qur’an melalui kegiatan membaca secara klasikal.
Sebanyak lima halaman Al-Qur’an yang telah ditentukan dibaca bersama secara berurutan dari hari ke hari. Pembacaan dilakukan dengan tempo yang tidak terburu-buru, namun juga tidak terlalu lambat, sehingga murid dapat mengikuti bacaan dengan baik sekaligus membangun suasana yang mendukung penghayatan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya sekolah untuk menghadirkan Al-Qur’an di berbagai waktu dalam keseharian murid. Al-Qur’an tidak hanya hadir ketika pembelajaran Qur’an berlangsung, tetapi juga menjadi bagian dari ritme aktivitas mereka di sekolah.
Tasmi’ Al-Qur’an: Belajar Menjaga Hafalan Bersama
Kegiatan berikutnya adalah Majelis Tasmi’ Al-Qur’an. Dalam satu sesi, sebanyak lima murid maju secara bergantian untuk membaca dua halaman dari juz yang telah ditentukan. Dengan demikian, satu majelis tasmi’ dapat menyelesaikan setengah juz. Majelis Tasmi' Al-Qur'an siang pun terpisah antara murid laki-laki dan perempuan.
Dalam kegiatan ini, murid melafalkan hafalan yang telah ditentukan sementara murid lainnya dan asatiz pendamping menyimak bacaan. Selain menjadi sarana untuk menjaga hafalan, kegiatan tasmi’ juga melatih keberanian murid untuk membaca Al-Qur’an di hadapan orang lain serta membangun budaya saling menyimak dan saling mengingatkan dalam kebaikan.
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran Al-Qur’an di SMPIT Mutiara Hati Semarang tidak berhenti pada aspek teoritis. Nilai-nilai Al-Qur’an diupayakan hadir melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten: membaca dengan benar melalui tahsin, menghafal dan menjaga hafalan melalui tahfidz, serta memperkuat hafalan melalui tasmi’.
Pada akhirnya, ikhtiar tersebut bukan sekadar tentang seberapa banyak ayat yang mampu dibaca atau dihafalkan oleh seorang murid. Lebih dari itu, pembiasaan bersama Al-Qur’an diharapkan menjadi jalan untuk menumbuhkan kecintaan kepada Al-Qur’an, membangun ketakwaan, serta membentuk generasi yang mampu membawa nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan.
Sebagai penanggung jawab bidang Qur’an, Ustazah Sumayyah mengungkapkan bahwa mencetak generasi Qur'ani merupakan proses yang cukup menantang. Setiap perjalanan selalu ada tantangannya. Namun hal ini tentu akan sangat luar biasa membahagiakan dan membanggakan ketika sampai pada muaranya. Apalagi proses panjang yang memberikan banyak hikmah, ia menempa setiap diri menjadi pribadi yang lebih baik dan tidak mudah menyerah.
"Sebagai guru tahfizh, saya sangat bahagia bisa mendampingi siswa-siswi dalam perjalanannya menghafal al Qur'an. Semoga setiap ayat yang mereka perjuangkan hari ini, akan menjadi cahaya yang menerangi jalan kehidupan mereka, menjadi syafa'at bagi mereka dan kedua orang tuanya kelak, serta menjadikan mereka generasi yang senantiasa mengamalkan nilai-nilai al Qur'an dalam kehidupan sehari-hari,"
"Harapan saya, kegiatan tahfizh al Qur'an ini bisa terus istiqamah dan melahirkan generasi Qur'ani yang berakhlaq mulia, serta bisa menjadi contoh yang baik bagi orang maupun lembaga lain. Aamiin…”
Kontributor: Intan Bintang Wijaya
Editor: Intan Bintang Wijaya (Tim Humas SMPIT Mutiara Hati Semarang)